Bahagianya seorang muslim

Kajian hari Ahad, 7 Jumadil Awal 1440 H/ 13 Januari 2019

Bada Sholat Subuh

 

 

Hakikatnya semua manusia ingin bahagia, semua muslim pun senantiasa berdoa

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka.” (QS. al-Baqarah : 201)
Kebahagiaan kita  di akhirat tergantung apa yg kita torehkan di dunia. Kebaikan akan turun pada kita tergantung bagaimana kita memancing kebaikan dan keburukan tersebut

Dalam surat Asy Syams ayat 9-10

Asy Syams ayat 9

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),

Kita sering dengar kata al Falah (beruntung), Al Falah itu bisa kita dapat jika mensucikan diri kita.

Dalam surat  Al Mukminun ayat 1 – 9 dijelaskan bahwa

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. Manusia akan bahagia (beruntung) sesuai penjelasan ayat 2 – 9 surat Al Mukminun.

Asy Syams ayat 10

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.

Sesungguhnya seluruh perbuatan baik akan kembali pada diri kita sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Isra ayat 7

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.

Contoh, jika kita bantu sahabat kita yang sedang kesulitan, maka kebaikan kita itu akan kembali pada kita sendiri.

Apa penyebab manusia tidak bahagia?

Ada 2 model manusia yang celaka sesuai firman Allah surat Al A’raf ayat 36:

وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَاسْتَكْبَرُوْا عَنْهَآ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Tetapi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya

Allah menghendaki kita agar mempercai ayat-ayat Allah. Diantara penyebab turunnya musibah

 

penyebab turunnya musibah (dzillah wal maskanah) sebagaimana firman Allah dalam Al Baqoroh ayat 61:

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ Kemudian mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah

ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ

  1. Mengingkari ayat allah
  2. Membunuh para Nabi (atau yang dimaksud adalah para ulama sebagai ahli waris kenabian)
  3. Maksiat (durhaka)
  4. Melampaui batas

Bagaimana cara kita mencapai derajat mukmin:

Abu Bakar Jabir al Jazalli berkata:

Yang paling utama agar manusia bahagia yaitu dengan cara merintis jalan tobat. Tobat adalah kembali pada Allah

Salah satu nama Allah yaitu At-Tawwab (At Tawwab) Artinya Yang Menerima Taubat

Ali bin Abi Thalib menjelaskan 6 rukun taubat yaitu

إنّ الاستغفار درجة العلّيين، وهو اسم واقع على ستة معان: أوّلها الندم على ما مضى، والثاني العزم على ترك العود إليه أبداً، والثالث أن تؤدّي إلى المخلوقين حقوقهم حتّى تلقى الله أملس ليس عليك تَبِعَة، والرابع أن تَعْمد إلى كلّ فريضة عليك ضيّعتها فتؤدّي حقّها، والخامس أنّ تَعْمدَ إلى اللحم الذي نبت على السُّحت فتذيبه بالأحزان حتّى يلصق الجلد بالعظم، وينشأ بينهما لحم جديد، والسادس أن تُذيقَ الجسم ألم الطاعة كما أذقته حلاوة المعصية، فعند ذلك تقول: أستغفر الله

  1. Penyesalan

Taubat harus diiringi penyesalan. Contoh: bagaimana kita lalui tahun 2018? Allah sering bersumpah demi waktu: Wa Syams, Wal Fajr, Wal Lail, Wal Ashr, itu penanda bahwa betapa pentingnya waktu yang kita lalui.

Ibnul Qoyim berkata kehilangan waktu lebih celaka dari kematian.

Syeikh Ibrahim pernah melalui sebuah jalan, dia melihat orang yang sedang duduk di kedai sambil main dadu, kemudian Syeikh Ibrahim melewati jalan itu lagi 3 jam kmudian, dan orang-orang tersebut masih bermain dadu, maka beliau berkata: “kalau boleh saya beli waktu mereka berapapun harganya akan saya beli.”

Kita sering di lalaikan dalam waktu kita, kita duduk di kajian mengantuk, membaca Qur’an sebentar mengantuk, tapi baca whatsapp bisa berjam2.

  1. Bertekad tidak mengulangi.
  2. Menunaikan hak-hak mahluk.

Jika kesalahan terkait hak mahluk maka tunaikan dulu hak mahluk tersebut. Jika kita mengambil hak orang lain, maka kembalikan dulu haknya. Jika kita merusak nama baik orang lain, maka kembalikan dulu kehormatanya. Datangi orang itu dan minta maaf.

Baik materi atau kehormatan harus kita kembalikan. Jika kita telah berusaha mencari orang tersebut namun tidak ketemu, maka kita bisa bersedekah atas nama dia.

  1. Melaksanakan kewajiban agama yg telah ditinggalkan.

Tidak mengulangi kesalahan meninggalkan perintah-perintah Allah

  1. Riyadhoh mengolah olah rohani dengan dzikir

Rajin belajar Qur’an, jauhi hati dari penyakit hari ria dan ujub. Salah satu yang merusak ibadah yaitu manusia yg Ujub serta menuruti syahwat.

  1. Menukar kenikmatan maksiat dengan kelelahan ibadah

Kita harus yakin Allah mengampuni orang yang bertobat, sedangkan syaitan akan menghalangi orang yang mau bertaubat.

Syeitan akan menamkan sifat pesimis bahwa taubat kita diterima Allah. Padahal Allah berfirman

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53)

Suatu ketika sahabat Nabi yaitu Abu hurairah r.d berpapasan dengan wanita yang berkata “Wahai Abu Hurairah, saya telah berbuat dosa besar. Apakah saya ada kesempatan bertobat”, ucap wanita itu. “Apa dosamu?”, tanya Hurairah. “Sungguh aku telah berbuat zina dan anak hasil zina ini telah saya bunuh”, jawab wanita itu. “Engkau telah binasa, dan membinasakan, demi Allah tidak ada tobat untukmu”, jawab Abu Hurairah.

Maka, wanita itu, ketika ia mendengar fatwa Abu Hurairah itu, menjerit dan langsung pingsan, ketika sadar lalu ia pergi. Ketika wanita itu pergi, Abu Hurairah menjadi gundah. Kegundahan itu, tak pelak membuat Abu Hurairah menangisi dirinya sendiri. Abu Hurairah menanyakan kepada dirinya sendiri : ”Bagaimana saya memberi fatwa, sedangkan Rasulullah Shallahu alaihi wa salam masih hidup?”, tukasnya.

Keesokan harinya Abu Hurairah  datang kepada Rasulullah Shallahu alaihi was salam, dan menyampaikan kepada beliau : “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita tadi malam meminta fatwa, bahwa dirinya telah berbuat zina, kemudian membunuh bayinya dari hasil perbuatannya itu. Dan, saya mengatakan engkau telah binasa, dan membinasakan, demi Allah tidak ada tobatmu”, ucap Hurairah. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, demi Allah kamu telah celaka dan mencelakakan orang lain, tidakkah kamu memahami ayat ini”, jawab Rasulullah.

{وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain berserta Allah tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dlam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal sholih, maka kejahatan mreka diganti Allah dengan kebajikan. Dan, adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (al-Qur’an, al-Furqan : 68-70).

Wallahu’alam bi showab.