Keutamaan Berjamaah

Kajian hari Ahad, 29 Robiul Akhir 1440 H / 6 Januari 2019

Oleh Ustadz Kang Rasyid

Masjid adalah solusi bagi berbagai permasalahan saat ini. Berjamaah di Masjid adalah ikatan kuat yang harus dibangun,  karena saat ini, manusia digiring atau dibentuk kepada selfish personality.

Manusia dialihkan aktifitasnya kepada Media Sosial (SosMed). Saat ini kurang lebih 3,5 Miliar orang di dunia setiap hari pasti membuka aplikasi di Handphone, dan itu termasuk 175jt Muslim di Indonesia juga ikut akses.

Ayah Bunda harus mewaspadai anak-anak ketika pegang gadget, karena di dalamnya ada Predator Sex dan Predator Narkoba.

Dalam aplikasi Facebook contohnya, tidak ada filter sehingga  didalamnya ada orang yang baik dan orang-orang jahat.

Facebook, Instagram, Whatssapp, Aple berkolaborasi sehingga menguasai seluruh aktifitas manusia pada umumnya.

Banyaknya musibah terjadi saat ini adalah karena telah terjadi kerusakan di muka bumi. Hal tersebut dicatat dalam Al-Qur’an;

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

(QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)

Kata لِيُذِيقَهُمْ adalah maksudnya agar manusia merasakan / mencicipi sakit/musibah akibat perbuatan mereka sendiri. Namun itu tandanya Allah sayang agar manusia kembali kepada jalan yang benar.

Salah satu konklusi dan solusi adalah menjaga masjid

Masjid adalah jawaban atas masalah ini. Kita harus memakmurkan masjid sebagaimana hadits dari Rosulullah SAW

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : أَتَى النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – رَجُلٌ أعْمَى ، فقَالَ : يا رَسُولَ اللهِ ، لَيسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إلى الْمَسْجِدِ ، فَسَأَلَ رَسُولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – أنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّي فِي بَيْتِهِ ، فَرَخَّصَ لَهُ ، فَلَّمَا وَلَّى دَعَاهُ ، فَقَالَ لَهُ : (( هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ؟ )) قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : (( فَأجِبْ ))

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kedatangan seorang lelaki yang buta. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki seorang penuntun yang menuntunku ke masjid.’ Maka ia meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberinya keringanan sehingga dapat shalat di rumahnya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberinya keringanan tersebut. Namun ketika orang itu berbalik, beliau memanggilnya, lalu berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mendengar panggilan shalat?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Beliau bersabda, ‘Maka penuhilah panggilan azan tersebut.’ (HR. Muslim, no. 503)

عَنْ عَبْدِ اللهِ – وَقِيْلَ : عَمْرٌو بْنُ قَيْسٍ – المعْرُوْفُ بِابْنِ أُمِّ مَكْتُوْمٍ المؤَذِّنُ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – أنَّهُ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ ، إنَّ المَدينَةَ كَثِيْرَةُ الهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ . فَقَالَ رَسُول اللهِ – صلى الله عليه وسلم – : (( تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلاةِ حَيَّ عَلَى الفَلاحِ ، فَحَيَّهلاً ))

Dari ‘Abdullah -ada yang mengatakan, “Amr bin Qais -yang dikenal sebagai Ibnu Ummi Maktum sang muazin radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya di Madinah banyak terdapat singa dan binatang buas.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah engkau mendengar hayya ‘alash shalah, hayya ‘alal falah? Maka penuhilah.’” (HR. Abu Daud, no. 553; An-Nasa’i, no. 852. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Jika orang yang buta saja harus datang ke Masjid, maka apalagi yang bisa melihat.

Keutamaan-keutamaan berjamaah dari sisi Ibadah:

Nabi SAW juga bersabda tentang pahala sholat subuh berjamaah :

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656)

Sholat berjamaah 27 drajat lebih baik (AlFatihah nya 27 derajat, Rukunya 27 derajat, Sujudnya 27 drajat)

Dalam  kitab Jawami’ul Kalim disebutkan bahwa “Orang  yang sholat berjemaah dilihat oleh penduduk langit sperti bintang yg bersinar”.

Sholat berjamaah juga menjadi ajang silaturahim ketemu tetangga secara Offline.  Efek bertemu Offline ini dijelaskan dalam sebuah hadits:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.

Dengan berjamaah jadi ketahuan siapa yang sedang sakit sehingga bisa didoakan dan dijenguk.

Keutamaan berjamaah dari segi ekonomi

Turki membangun kegiatan sholat subuh berjamaah, maka kita lihat dalam 1 tahun, Turki bisa membayar hutangnya serta ekonomi membaik.

Di Turki masyarakat mulai datang ke Masjid sebelum subuh, dan lanjut sampai israq dan langsung berangkat ke kantor. Di Masjid disediakan sarana-sarana makanan dan lain-lain sehingga makmur dan transaksi ekonomi membaik.

Di pesantren Al Ittifaq Ciwidey (Bandung) syarat jadi santri harus sholat berjmaah. Untuk memperbaiki kondisi Masjid, pak Kyai menerapkan denda bagi santri yang tidak sholat berjamaah.

Efeknya, dengan berjamaah Santri lebih solid.  Pesantren tersebut dalam sebulan menghasilkan Rp1,5 Miliar.  Pesantren tidak pernah minta-minta dana utk bangun Masjid namun karena efek dari sholat berjamaah Allah mudahkan. Ini seperti yang terjadi di Turki.

Nabi SAW bersabda

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلاَ صَلاَةَ لَهُ، إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ.

“Barangsiapa mendengar adzan, kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya (tidak sempurna shalatnya-ed.) kecuali ia memiliki halangan”

Selanjutnya bisa kita lihat pelajaran, peristiwa Tsunami di Aceh.. yang masih utuh Masjid, bendungan cirendeu jebol juga yang utuh Masjid.

Di Indonesia banyak Mu’alim tp kurang Murobbi. Bedanya Mu’alaim menganalisa peristiwa setelah kejadian, tapi Murobbi dapat mengetahui peristiwa sebelum kejadian tersebut.

Wallahu’alam bi showab